Limbah beton yang dihasilkan dari pengecoran borepile dalam proyek infrastruktur jembatan merupakan salah satu jenis limbah yang signifikan. Limbah ini muncul dari proses pengecoran dan sering kali mengandung sisa material yang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Mengingat pentingnya keberlanjutan dalam konstruksi, pengelolaan limbah ini perlu menjadi perhatian utama untuk meminimalisasi dampaknya.
Volume limbah beton yang dihasilkan juga meningkat secara signifikan. Hal ini menimbulkan tantangan bagi industri konstruksi dalam pengelolaan limbah dan dampak terhadap lingkungan. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah serbuk beton dapat menambah beban pada tempat pembuangan akhir dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Pengelolaan yang baik dan efektif menjadi peran penting dalam mengantisipasi permasalahan tersebut.
Penggunaan limbah beton sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan beton kerb dan tolo-tolo memberikan solusi menarik untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi material. Dengan mengganti sebagian agregat halus atau bahkan semen dengan limbah serbuk beton, diharapkan dapat menurunkan ketergantungan pada sumber daya alam baru serta mengurangi biaya produksi.
Berdasarkan SNI 2442:2020, kerb merupakan bagian dari jalan berupa struktur vertikal dengan bentuk tertentu yang digunakan sebagai pelengkap jalan untuk memisahkan badan jalan dengan fasilitas lain, seperti jalur pejalan kaki, median, separator, maupun pulau jalan. Selain itu, tolo – tolo merupakan rambu yang dapat digunakan sebagai petunjuk kepada pekerja dan pengguna jalan untuk memberikan informasi, peringatan, atau petunjuk kepada pekerja dan pengguna jalan.
Pada proyek Duplikasi Jembatan Pulau Balang Bentang Pendek II terdapat dua penanganan limbah serbuk beton yang terdiri dari pembuatan beton kerb (kanstin) dan pembuatan rambu tolo – tolo. Dalam pekerjaan ini material utama yang digunakan adalah limbah serbuk beton sisa pengecoran borepile yang dihasilkan dari concrete pump (CP) kodok yang memiliki volume sisa beton mencapai 15 m³ per bulan nya. Diharapkan dengan pengaplikasian beton kerb dan rambu tolo – tolo dapat mendukung pembangunan berkelanjutan, estetika dan integrasi lingkungan, serta efisiensi proses produksi.
- Pengajar: 013B NOEVRI MICHAELS YOENOES
- Pelajar terdaftar: Tidak ada siswa yang mendaftar pada kursus ini